Kutuliskan, Karena Otak Tak Cukup Mampu Mengingat

Friday, December 31, 2010

CERPEN : “SEBELUM CAHAYA…DEDAUNAN….”



By. Husain. MP. S To. Pau

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan luas perkebunan  yang berbukit-bukit. Di pinggir sebelah barat tidak jauh dari tempatku duduk, mengalir jernih air sungai yang alirannya tampak tenang, menabrak batu-batu kali besar yang menghalanginya. Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan di atas pohon besar, yang dibawahnya di buat bangku-bangku kayu tempat di mana aku biasa duduk menatap keindahan alam ini, dan mengabadikan keindannya dengan kamera kesayanganku.
Pikiranku menerawang mencoba mengingat pertemuanku dengan gadis manis di pinggir bukit perkebunan sebelah timur dari tempatku duduk. Namanya Daun, daun seorang gadis berperawakan indah, dengan rambut terurai hitam lurus, kulitnya sawo matang, hidungnya mancung, terdapat lesung di kedua pipinya. Daun memperhatikanku yeng tengah asyik mengambil beberapa fose gambar perkebunan teh disekitarku. Merasa diperhatikan, akupun mendekatinya.
“Hai! Aku Ucenhk, maaf jika aku mengganggumu.” Sapaku ramah. “Ku perhatikan sejak tadi kamu mengamatiku. Kamu tertarik dengan ini? Kalau kamu mau, kamu bias mencobanya.” Lanjutku kemudian seraya menyodorkan kameraku.
Daun hanya menunduk sesaat, kemudian melirik kamera ditanganku. Aku mengangguk mantap, namun ia tetap tak bergeming. Aku kembali mengambil obyek kameraku. Gadis ini aneh, pikirku.
“Maaf, boleh ku tahu namamu?”tanyaku memecah keheningan diantara kami.
Gadis itu tetap terdiam, dipetiknya daun  yang tumbuh didekatnya. Daun menyodorkan selembar daun  dari tangannya padaku. Ku ambil daun  dari tangannya, ku perhatikan daun itu lekat-lekat. Ku tatap wajahnya tak mengerti. Daun menunjuk dirinya dan menunjuk daun ditanganku. Aku baru mengerti kalau dia tak dapat berbicara.
“Daun?” tanyaku memastikan.
Daun mengangguk mantap. Aku tersenyum simpati padanya, diapun membalas senyumanku. Pandangan itu menyisakan rasa yang berbeda, mencoba menyelinap masuk ke relung hatiku. Daunpun tersipu malu. Ku harap dia merasakan hal yang sama denganku.
“Apa yang kau lakukan di tempat ini seorang diri?” tanyaku kemudian.
Dia hanya tersenyum menatap hamparan perkebunan nan hijau yang membentang luas dihadapan kami. Sepertinya ia juga tengah merasakan keindahan alam ini, sama sepertiku.
“maukah kamu menjadi modelku?”
Awalnya dia menolak malu-malu, berkali-kali menggelengkan kepalanya. Namun aku mencoba merajuk hingga dia mengangguk setuju. Aku melihatnya sebagai gadis yang lembut dan sederhana, begitu natural.
“mulai sekarang kita adalah teman?” ujarku ramah. Kuulurkan tanganku, diapun menjabat tanganku hangat.
Daun mulai berbicara denganku melalui isyarat tangannya. Lama-lama aku mulai mengerti dan terbiasa. Meskipun Daun memiliki kekurangan dalam dirinya, namun dia selalu tampak ceria. Aku mengaguminya, mengagumi kecantikannya.
Di lain waktu, dia mengajakku ke rumahnya di ujung jalan pinggir sungai. Rumahnya hanyalah gubuk kecil yang sudah reot. Dia hanya tinggal sendiri di rumah itu. Dia dibesarkan oleh neneknya, neneknya belum lama meninggal. Sejak saat itu, dia menjadi sebatang kara. Namun, itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus melanjutkan hidup.
Aku menceritakan kehidupanku sebagai photographer di kota, aku hanya sesekali berlibur ke rumah nenekku di kota ini untuk menjenguknya, serta mencari obyek gambar baru, atau hanya sekedar refresing. Cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Hingga kamipun setuju menjalin hubungan yan lebih pribadi. Aku merasa cocok dengannya. Meskipun dari fisik dia memiliki kekuangan, namun bagiku dia gadis yang sempurna. Dialah sumber inspirasiku, tempatku berbagi kisah dan begitu mengerti akan diriku. Waktu yang singkat, tidak menjadi hambatan untuk kami menjalin suatu hubungan. Aku mencintainnya, sangat menyayanginya.
Siang itu kami duduk di bawah pohon rindang diatas bukit. Dia menceritakan mimpi-mimpinya, perjalanan hidup yang begitu sunyi, namun tak sedikitpun ku melihat aura wajahnya sedih, dia bukanlah gadis yang mudah rapuh. Dia begitu bersemangat menceritakan hidupnyaitu melalui bahasa isyarat tangan dengan wajah berseri-seri. Sungguh mengagumkan! Hanya satu impiannya terlepas dari kesunyian yang tidak lain adalah biasa menjadi manusia sempurna, yang mampu berbicara dengan baik.
Daun begitu berharap padaku untuk menjadi teman dikehidupannya. Jauh di lubuk hatiku ingin selalu membahagiakan gadisku ini. Apapun akan kulakukan untuk membuatnya bahagia. Karena yang sekarang dibutuhkannya hanyalah seorang teman.
Aku membelai rambut indahnya yang selalu terurai dan menyandarkannya dibahuku.
“Aku begitu menyayangimu!” bisikku lirih.
Daun mengangguk senang, senyumnya mengembang indah.
“apa yang membuatmu bahagia, tanpa ada orang lain disisimu?” tanyaku kemudian.
Daun meraih jemariku, menarikku untuk beranjak menuju rumahnay. Daun menunjukkan sesuatu padaku, sebuah lampu bohlam yang berisi air. Aku menatapnya tak mengerti. Dia hanya tersenyum, kembali mengisyaratkanku untuk datang esok pagi sebelum matahari terbit.
Pukul lima pagi aku menemuinya di bukit tempat biasa kami bertemu. Dia membewa bohlam air miliknya. Diceritakannya bahwa bohlam itu amat berarti baginya, yang dimilikinya setelah neneknya meninggalkannya. Bohlam itu berisi tetesan embun yang diambilnya dari pucuk dedaunan sebelum mentari menampakan cahayanya.
Daun merentangkan tangannya mencoba merasakan hembusan angin yang membelai rambutnya mesra. Saat itu dia merasakan betapa indahnya dunia, betapa berartinya hidup dan ia tidaklah sendiri. Embun dan angin pagi inilah sahabatnya, yang membuatbya selalu merasa senang.
Aku menatapnya senang. Daun yang hanya sebatang kara, tidak pernah merasa pesimis dengan kehidupannya. Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahukan kepulanganku ke Kota. Pikirku saat itu.
“Daun!” seruku lirih. Daun berbalik menatapku lekat-lekat.
“Sudah saatnya aku mengatakan ini padamu. Aku tidak bias menemanimu lagi di sini, besok aku akan pulang ke kota. Orangtuaku tengah menungguku di sana.” Rasanya sebongkah batu besar, baru saja berhasil terlepas dari dadaku. Lega… sekali.
Seketika ekpresi wajahnya yang bahagia berubah menjadi sendu. Tatapnya memelas.
“Daun aku berjanji akan sering menemuimu di sini, menemanimu bercerita dan aku akan selalu menjaga cinta ini untukmu. Aku harap kamu mengerti.” Janjiku padanya.
Ku raih jemarinya lembut, menggenggamnya erat. Namun daun melepaskan dengan kasar, seraya berlari meninggalkanku.
Aku kembali tersadar dari lamunan panjangku. Hari ini aku tak melihatnya duduk di bukit menungguku seperti biasa. Aku bergegas merapikan alat-kameraku kameraku dan handycame yang ku pakai beberapa hari ini untuk merekam kenanganku bersama Daun, dan memasukkannya ke dalam ranselku. Aku berlari menuju rumah Daun, untuk pamitan yang terakhir kalinya. Tak kutemui dia di sana, rumahnya tampak kosong. Aku kembali ke bukit, Daun tetap tak dapat kuteukan. Di mana dia berada? Aku masih belum menyerah mencarinya. Aku berteriak menyerukan namanya. Tapi itu semua sia-sia, sebab Daun tak mungkin membala seruanku. Kuputuskan untuk kembali ke rumahnya. Aku tersentakkaget sekaligus senang. Daun ada di sudut ruangan tengah menangis. Aku mendekapnya erat, dan mengusap air matanya.
“Maafkan aku, aku janji pasti kembali untukmu!” janjiku tuk kesekian kali.
Daun mengangguk berat. Dia memberikan bohlam embun miliknya padaku. Aku menolaknya, namun dia tetap memaksa. Akupun menerimanya dengan berat hati, karena hanya itu semangat hidupnya. Aku menunjukan sesuatu padanya. Handycame kecil yang mengingatkan kami akan kenangan-kenanganku bersamanya selama kami bersama. Wajahnya kembali menyiratkan kegembiraan, meskipun tidak sempurna. Aku memberikan handycameku untuknya yang disalurkan pada televise kecil tahun 90-an yang layarnya tidak berwarna.
“Aku pergi!” pamitku kesekian kali.
Aku berlari meninggalkannya. Perasaanku benar-benar kacau, aku tak sampai hati meninggalkannya sendiri dalam kesepian. Namun langkahku tetap menjauh darinya.
Diangkutan umum yang kutumpangi menuju terminal, aku kembali teringat akan bohlam embun peberian Daun. Lama ku tatap bohlam itu. Entah dorongan apa yang membuatku menghentikan laju angkutan umum yang kutumpangi. Aku berbalik arah menuju bukit di mana Daun tinggal. Aku terus berlari hingga terlihat rumah mungil di pinggir sungai. Aku terus berlari, sampai di depan pintu, nafasku terengah-engah. Daun tampak kaget seraya memelukku.

1 comment:

  1. Mas ini ngambil dr blog saya ya?? Blognya udah lamaaaa bgt tahun 2010an...

    ReplyDelete

Recent Posts

Popular Posts

Unordered List

Blog Archive

Pembaca di Facebook

Total Pageviews

Tentang Saya

My Photo
Muhammad Arsyad Dumpa
Palopo, Sulawesi Selatan, Indonesia
saya adalah seorang mahasiswa di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Palopo, mengambil Jurusan komunikasi....
View my complete profile

Jual Beli Online Murah dan Aman